Tempursari, Sulhii Online
Kepala Kantor (Kakan) Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Lumajang, Dr. H. Muhammad Muslim, S.Ag., M.Sy mengatakan, penyuluh agama harus berada di tengah-tengah masyarakat sebagai pembawa kedamaian bukan malah menjadi pemanas masalah di tengah masyarakat, terutama mengenai polemik isu nasab yang akhir-akhir ini viral melalui media sosial.
Hal itu disampaikan Muslim saat hadir sebagai narasumber pada acara Pembinaan Penyuluh Agama yang digelar Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kantor Kemenag Lumajang bersama Pengurus Daerah (PD) Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Lumajang yang dipusatkan di MTsN 02 Tempursari Lumajang, Jumat (23/08/2024).
“Akhir-akhir ini ada hal serius yang kita hadapi bersama, dan penyuluh jangan jadi alat untuk membakar, tidak boleh ikut memanaskan situasi, yaitu isu nasab. Saya mendapat informasi, ada kemungkinan sekenario buruk untuk memecah belah bangsa dengan pecah bambu, sekarang lebih parah dan lebih tinggi daya rusaknya karena disebar melalui media sosial,” tegas Muslim.
Muslim menuturkan, fungsi Penyuluh tetap menjadi penyuluh di tengah masyarakat, menjaga kerukunan dan perdamaian, tidak ikut memprovokasi dan memanas-manasi suasana dan tidak perlu menjelek-jelekkan satu dengan yang lainnya, silahkan meyakini yang dianggap benar tapi jangan memperkeruh suasana.
“Bimbingan keagamaan menjadi kewajiban penyuluh, kemampuan penyuluh bermacam-macam, jangan merasa jenengan tidak diawasi, kita semuanya tahu, sampaikan dakwah yang sejuk ditengah masyarakat, semua harus ambil posisi, karena penyuluh ujung tombak Kemenag,” pungkasnya.

