Sulhii Online
Surabaya – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Jawa Timur, Dr. Akhmad Sruji Bahtiar, M.Pd.I memberikan wejangan inspiratif dalam acara pembinaan sekaligus penyerahan SK Penugasan PPPK Penyuluh Agama dan Guru di lingkungan Kemenag Jawa Timur, Senin (20/01/2025) di Aula Kantor Kemenag Jawa Timur
Dalam sambutannya, dirinya menekankan pentingnya rasa syukur, pengabdian, dan inovasi sebagai fondasi utama bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) Kemenag.
Pria asal Pulau Garam Madura ini memulai dengan pertanyaan reflektif tentang bahagia apa tidak orang yang memberikan kebahagiaan. Rasa bahagia, menurutnya, harus diiringi dengan syukur yang mempunyai tiga dimensi.
“Pertama syukur bil Qolbi, Bersyukur dengan hati, yaitu merasa senang dan menerima anugerah dari Allah, seperti penerimaan SK yang menandai amanah baru. Kedua Syukur bil Lisan, Bersyukur dengan ucapan, dengan terus berzikir dan mengingat Allah,” jelasnya.
Dirinya melanjutkan penjelasan syukur ketiga yaitu Syukur bil Af’al, yakni bersyukur melalui perbuatan, yaitu mencerminkan rasa syukur dengan bekerja keras, mengabdi, dan menjalankan tugas dengan baik.
“ASN itu pelayan, pengabdi, dan pejuang. Siapa yang tidak berjuang dan mengabdi dengan baik, sejatinya dia tidak bersyukur,” tegasnya.
Lebih lanjut, pria Alumni Pesantren Nurul Jadid Paiton ini juga mengajak para peserta untuk merenungkan tugas mereka sebagai abdi negara yang tak hanya mengajar, tetapi juga memikirkan kesejahteraan orang lain dan lingkungan. Ia menekankan pentingnya ta’aruf (mengenal diri sendiri) baik secara jasadiyah (fisik) maupun nafsiyah (jiwa).
“Jika kita mengenal diri, kita akan sadar bahwa semua yang kita miliki adalah milik Allah. Dengan begitu, kita akan berbuat baik dan menebarkan manfaat kepada orang lain,” ujarnya.
Ia memperingatkan agar ASN Kemenag tidak sombong atau merusak lingkungan. Sebaliknya, mereka diminta untuk rajin belajar dan terus meningkatkan kompetensi.
“Orang yang tidak mengenal dirinya cenderung sombong, suka memfitnah, atau mendzalimi orang lain. Tapi jika kita kenal diri kita, kita akan bergantung sepenuhnya kepada Allah,” tuturnya.
Dalam pesan lainnya, Bahtiar memperkenalkan lima level pengabdian bagi ASN Kemenag, antara lain Tafahum, yaitu memahami dan mengevaluasi apa yang telah dilakukan, termasuk menghitung tanggung jawab moral atas gaji yang diterima.
“Jika tidak bekerja dengan benar, maka gaji yang diterima menjadi haram, barang siapa yang dagingnya tumbuh dari sesuatu yang haram maka dia berhak di neraka,” tegasnya.
Selanjutnya adalah Ta’awun, yaitu membantu sesama dengan selalu memikirkan kebaikan, perubahan, dan terobosan baru, sehingga ketika dilakukan levelnya akan naik menjadi Takalluf, yaitu memaksakan diri untuk terus berbuat baik kepada orang lain dan institusi Kemenag.
“Kalau itu dilakukan maka levelnya akan naik manjadi Itsar, yaitu mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi, dengan tetap berserah kepada Allah meski mengalami kesulitan.
“Jika Anda tidak berkembang, sama saja seperti mati. Saya akan tagih karya dan inovasi Anda setiap tahun,” ujarnya, menegaskan pentingnya evaluasi diri bagi setiap ASN.
Tak hanya itu, dirinya juga menekankan pentingnya menunjukkan sikap moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, ASN Kemenag adalah representasi Kemenag yang harus membawa kebahagiaan dan manfaat bagi siapa saja, tanpa memandang perbedaan agama.
“Moderasi itu sederhana, kehadiran anda harus membahagiakan dan membawa manfaat bagi orang lain. Dan ingat, semua yang kita lakukan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Jadi, mari kita jadikan hati, pikiran, jiwa, dan raga sebagai persembahan terbaik bagi Kemenag dan masyarakat,” tutupnya.
Wejangan ini menjadi pengingat penting bagi para ASN Kemenag untuk terus meningkatkan pengabdian dan menjaga integritas dalam menjalankan amanah.
Read More “Nasihat Bijak Kepala Kanwil Kemenag Jatim: Makna Syukur dan Pengabdian dalam Tugas ASN”