Posted in: Moderasi Beragama

Islam Agama Cinta Damai Pembawa Pesan Kasih Sayang dan Persatuan

 

Islam dan cinta damai adalah sebuah kesatuan tak terpisahkan, banyak bukti sejarah yang menunjukkan jika Agama Islam adalah agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai cinta damai, bukan agama yang mengajarkan kekerasan dan peperangan.

Diantara sejarah tersebut salah satunya adalah selama 13 tahun ketika Rasulullah dan para sahabat tertindas di Makkah Rasulullah tetap mencoba menjaga perdamian itu.

Bahkan ketika salah seorang sahabat yang tidak tahan akan berbagai macam tindasan dari orang-orang Musyrik Makkah dan meminta izin untuk perang kepada Nabi, Nabi Muhammad melarangnya karena belum diperintah oleh Allah.

Bisa dibayangkan, selama 13 tahun Rasulullah yang saat itu sebenarnya mempunyai sahabat pilih tanding seperti pamannya sendiri yaitu Hamzah, bahkan selang beberapa tahun diperkuat dengan masuk Islamnya Umar bin Khattab, tetap Rasulullah memilih untuk tidak memerangi mereka para penindas, bahkan menyuruh para sahabat hijrah ke Habsyah.

Keinginan hati para sahabat, yang sudah merasa muak dengan segala bentuk penindasan yang dialaminya tak justru membuat Rasulullah memerintahkan mereka untuk membalas penindasan tersebut dengan perang. Karena Rasulullah sebagai pemimpin agama sekaligus pemimpin negara dibimbing langsung oleh Allah.

Tentu segala yang dilakukan Nabi berdasarkan wahyu Allah, bukan karena ego dan dendam pribadi, ini membuktikan bagaimana agama yang dibawa Nabi mengajarkan dan mengupayakan perdamaian dan menjauhi sebisa mungkin pertumpahan darah apalagi antar saudara bangsanya sendiri.

Bahkan saat Rasulullah telah sepenuhnya mukim di Madinah, Rasulullah tidak justru merubah keberagaman agama yang terjadi disana. Justru Rasulullah bisa mendamaikan dua suku ternama yang sudah lama bermusuhan dan selalu berperang, yaitu suku Aus dan Suku Khazraj dengan ikatan persaudaraan sebangsa, setanah air yang dibalut dalam nilai keagamaan yang begitu indah.

Yang menakjubkan lagi, Rasulullah bisa menanamkan rasa tali persaudaraan yang sangat kental antara sahabat pendatang yang dikenal dangan sebutan Muhajirin bersama sahabat asli madinah yang kemudian disebut sebagai Sahabat Anshar, yang keduanya rela berbagi dan saling menyayangi.

Untuk menjaga keberagaman dan perdamaian ini, Rasulullah telah membuat sebuah pedoman sebagai prinsip bersama menjaga perdamian yang terjalin, yang disebut sebagai piagam madinah.

Dengan piagam madinah inilah, umat Islam sebagai mayoritas yang hidup bersama umat kristen dan Yahudi bisa berdampingan. Bahkan disebutkan, salah satu prajurit Rasulullah yang gugur dalam salah satu peperangan mempertahankan tanah air adalah seorang warga Yahudi.

Pernah dijelaskan oleh KH Fahrur Rozi, Pengasuh Pondok Pesantren An Nur 1 Bululawang Malang, perang saat zaman Rasulullah itu bukan inisiatif Rasulullah atau para sahabat, melainkan semua murni petunjuk dan tuntunan Allah melalui Rasulullah SAW.

“Jadi perang itu menunggu izin. Perang itu asalnya tidak boleh dan tidak langsung boleh. Dalam kitab-kitab klasik disebutkan sahabat meminta 70 kali untuk perang, baru diberi izin bukan diperintahkan, seperti di surat Al Hajj ayat 39, itupun karena umat Islam diperangi dan di dzolimi terlebih dahulu,” paparnya saat hadir sebagai narasumber di acara halaqah fiqih peradaban.

Maka, kata Kiai Fahrur, sangking lamanya sahabat tidak melakukan perang, ketika datang perintah perang banyak yang merasa tidak senang, karena nyaman dengan suasana damai seperti yang termaktub dalam surat Al Baqarah ayat 217.

“Bahkan Nabi disuruh memaafkan pembunuh pamannya yang dimutilasi. Kepada Raja Heraclius Nabi menulis suratnya diawali salam yang menunjukkan perdamaian. Islam bukan agama perang tapi agama damai, buktinya kita selalu disuruh salam kepada siapapun kenal atau tidak kenal,” tegasnya.

Maka, dengan logika cerdas dan hati nurani yang kita miliki, dilihat dari sisi apapun aksi terorisme, intoleran jelas-jelas jauh dari apa yang diajarkan Rasulullah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top