Posted in: Hikmah

Banyaknya Jalan Menuju Surga, Kita Pilih yang Mana?

Catatan ini sengaja saya buat untuk keperluan dokumentasi dari apa yang bisa saya tangkap dari keikutsertaan saya saat menghadiri pengajian Kitab Naso’ihud Diniyyah, karya Al Imam Syaikhul Islam Al Habib Abdullah bin Alawi Al Haddad (termasuk Bani Alawi/Ba’alwi) yang dibacakan oleh KH Solahuddin Munsif Kencong di Musholla Ustadz Faizin Padomasan Jember, Ahad (08/09/2024).

Dalam kesempatan tersebut, bertepatan dengan penjelasan mengenai Keutamaan Jihad Fisabilillah atau perang di jalan Allah. Dari beberapa hadits yang dijelaskan, Jihad merupakan ibadah yang berpahala luar biasa, yang siapa saja melakukannya dijamin surga, sampai-sampai Rasulullah SAW dalam hadits dijelaskan, jika saja bisa, beliau ingin melakukan jihad Fi sabillillah kemudian terbunuh dan dihidupkan kembali dan jihad kembali, terbunuh kembail dan jihad lagi dan seterusnya.

Para sahabat sendiri saat itu, jika ada pengumuman berperang atau jihad, mereka segera berbondong-bondong dengan tergesa-gesa sangking semangatnya untuk mengikuti perang dengan gagah berani, bahkan ada yang sedang bersenggama dengan istrinya belum selesai langsung berangkat sampai belum mandi besar. Hal itu menunjukkan bagaimana keimanan para sahabat yang mencium bau surga dalam jihad Fii Sabilillah.

Dan Jihad ini merupakan sebuah Sunnah Mahdliyyah yang artinya sebuah amaliyah mulia Rasulullah yang tidak pernah dan tidak akan di naskh (revisi) hingga hari kiamat, meskipun kita saat ini di Indonesia dalam keadaan aman, damai dan sentosa.

Maka jika begitu, bukan berarti kita dalam keadaan damai ini kita malah mencari perang atau memprovokasi perang, tentu tidak. Akan tetapi kita tetap punya semangat jihad itu (Azm) jikalau sewaktu-waktu keadaan memang dituntut untuk berperang melawan kabthilan (semoga tidak).

Rasulullah SAW sendiri tidak setiap peperangan selalu ikut serta, ada peperangan yang beliau ikut serta yang istilahnya dinamakan “Gozwah”, dan ada pula beliau hanya mengirim pasukan dan beliau tidak ikut terjun langsung ke medan peperangan yang istilahnya disebut “Sariyyah”.

Hal ini bertujuan karena Rasulullah merasa kasihan dan tidak memberatkan mental para Sahabat yang memang tidak bisa ikut serta dalam peperangan, karena faktor kendaraan,ekonomi dan faktor lainnya. Karena jika Rasulullah selalu ikut serta dalam peperangan, maka sahabat yang tidak mampu ikut tersebut akan merasa sangat nelongso (Rasulullah menjaga perasaan).

Ya itulah salah satu jalan menuju surga Allah, yakni dengan Jihad. Akan tetapi atas Rahmat Allah SWT, Allah memberikan bermacam-macam jalan menuju surga untuk manusia, bukan hanya dengan jihad, diantaranya seperti yang disebutkan dalam sebuah hadits:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ تَعَالَى فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ إِمَامٌ عَدْلٌ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Artinya: “Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Ada tujuh (golongan orang beriman) yang akan mendapat naungan (perlindungan) dari Allah dibawah naunganNya (pada hari kiamat) yang ketika tidak ada naungan kecuali naunganNya. Yaitu; Pemimpin yang adil, seorang pemuda yang menyibukkan dirinya dengan ‘ibadah kepada Rabnya, seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah, keduanya bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah, seorang laki-laki yang diajak berbuat maksiat oleh seorang wanita kaya lagi cantik lalu dia berkata, “aku takut kepada Allah”, seorang yang bersedekah dengan menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya, dan seorang laki-laki yang berdzikir kepada Allah dengan mengasingkan diri sendirian hingga kedua matanya basah karena menangis”.

Ada jalur masuk surga dari jalur politik, yakni menjadi Imamul Adil atau Pemimpin yang adil, ada dari jalur ibadah dengan rajin shalat, rajin ibadah di masjid, dari jalur bakti sosial melalui ta’alluq dengan masjid, ada melalui jalur sosial dengan menjalin hubungan relasi dan pertemanan dengan orang lain dengan baik karena tujuan baik (karena Allah), ada yang melalui menghindari maksiat sedangkan dia sangat mampu dan punya kesempatan untuk itu karena takut kepada Allah, ada yang melalui Bantuan Sosial (Bansos) dengan bersedekah secara rahasia karena Allah.

Itu hanya sebagian kecil jalan menuju surga yang sangat bermacam-macam, termasuk diantaranya dengan mencari Ilmu dan menyebarkannya atau Ta’lim wa Ta’allum, seperti disebutkan dalam sebuah hadits:

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Dan Barang Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699)


Itu adalah hikmah dan rahmat dari Allah, tinggal kita mau memilih jalan mana untuk menuju surganya Allah. Tidak perlu orang yang menempuh jalan menuju surga dengan dzikir (seperti para pelaku Thoriqoh) menyalahkan orang yang menempuh jalan surga dengan ngaji (Ta’allum) atau sebaliknya. Malah jika begitu jalan menuju surga bukan terbuka, tetapi akan tertutup sebab saling menjelekkan dan ada sifat sombong dalam diri.

Mulai zaman dulu, Allah memang membuat ulama itu berkelompok-kelompok, ada yang kelompok Fiqih, kelompok ulama Tasawwuf, kelompok ulama nahwu, dan lain sebagainya. Yang mana, para kelompok ulama ini tidak malah bercerai-berai, tidak saling caci. Malah saling mendukung dan memupuk persatuan. Wallahu ‘A’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top