Posted in: Cerpen

Dibalik Tangan Kasar itu Ada Hati yang Ikhlas

Di sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah dan bukit menghijau, hiduplah seorang petani sederhana bernama Paijo. Setiap hari, sebelum ayam berkokok, ia sudah bersiap pergi ke sawah. Kadang mengurus ladang sendiri, kadang jadi buruh tani di ladang tetangga. Yang penting halal. Yang penting bisa terus menyekolahkan anak semata wayangnya, Ziyad.

Meski hidup pas-pasan, Paijo tak pernah berhenti bersyukur. Tangannya kasar, tubuhnya legam, tapi hatinya lembut, selalu basah oleh doa. Ia percaya, selama hidup diisi keikhlasan dan tawakkal, Allah tak akan menyia-nyiakan.

Ziyad sejak kecil disekolahkan di pesantren. Paijo rela menjual hasil panen, menyisihkan uang kerja dari subuh sampai petang demi biaya mondok. Ia tahu, pendidikan dan agama adalah warisan terbaik yang bisa ia tinggalkan.

Tahun demi tahun berlalu. Ziyad menjadi hafidz Al-Qur’an. Lalu melanjutkan kuliah S1 di jurusan Hukum Islam di kota. Setiap kabar darinya membuat Paijo bangga walau tak pernah ia tunjukkan dengan kata-kata. Apalagi Ziyad selalu mengabarkan hal-hal pentingnya kepada orang tuanya, saat ia berhasil lulus di lembaga tahfidz, usai tuntas sima’an 10 juz, 20 juz dan bahkan saat bisa menyelesaikan hafalannya 30 juz, yang semua itu membuat kebahagiaan dalam diri Paijo ayahnya.

Hari itu datang, Hari wisuda

Paijo datang ke kota, mengendarai motor tuanya yang suara knalpotnya sudah parau. Ia mengenakan kemeja lengan panjang yang sedikit kebesaran, peci hitam yang warnanya sudah mulai kekuning-kuningan di pinggirnya, dan sandal jepit yang sudah beberapa kali ditambal. Murni, istrinya, duduk di jok belakang sambil membawa bungkusan berisi bekal sederhana.

Orang-orang tampak rapi dan mewah di acara itu, tapi Paijo tidak peduli. Matanya hanya tertuju pada satu sosok di atas panggung: Ziyad, anaknya, dengan toga dan selempang bertuliskan Cumlaude.

Ketika nama Ziyad dipanggil, Paijo berdiri di sudut ruangan. Ia tepuk tangan pelan, senyumnya merekah. Mata tuanya basah.

Usai acara, Ziyad mencari ayahnya, lalu berlari memeluk tubuh renta itu.

“Pak… Ziyad diwisuda… Ziyad lulus, Pak…”

Paijo hanya menepuk-nepuk punggung anaknya. “Bapak tahu kamu bisa, Nak. Alhamdulillah… Alhamdulillah…”

Beberapa tahun kemudian, Ziyad dinyatakan lulus dan diterima sebagai pegawai di Kementerian Agama. Saat ia pulang kampung membawa kabar itu, Paijo sedang duduk di bawah pohon jati, memperbaiki sabitnya yang mulai tumpul.

“Pak, mulai bulan depan, Ziyad resmi kerja. Jadi pegawai…” katanya, menahan haru.

Paijo menatap anaknya lama. Lalu berdiri dan memeluknya. “Bapak nggak bisa kasih kamu warisan tanah atau emas, tapi kalau kamu bisa hidup lurus dan jaga Qur’anmu… berarti hidup Bapak nggak sia-sia.”

Ziyad mencium tangan itu. Tangan yang dulu menggenggam cangkul, tangan yang pernah gemetar saat menyerahkan uang pondok, tangan yang penuh doa di malam hari.

Dan ia tahu, sandal jepit dan peci kusam yang datang ke wisudanya itu, adalah mahkota sejati dalam hidupnya.

 

Penulis: Sufyan Arif, S.H, Penyuluh Agama Islam KUA Lumajang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top