Lumajang, Sulhii Online
Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Lumajang, H. Ahmad Faisol Syaifullah, S.Ag., M.H, menegaskan pentingnya peran strategis penyuluh agama dalam menghadapi dinamika masyarakat di era digital.
Hal itu disampaikan saat memberikan arahan dalam Pembinaan Penyuluh Agama se-Kabupaten Lumajang yang digelar di Aula Kantor Kemenag Lumajang, Rabu (31/12/2025).
Menurutnya, penyuluh agama tidak lagi cukup hanya hadir di ruang-ruang fisik, tetapi juga harus aktif melakukan pendampingan umat di ruang digital, terutama melalui media sosial.
“Saya ingin jenengan membaca dan meresapi bahwa tugas penyuluh adalah melakukan pendampingan, termasuk di dunia maya. Banyak framing negatif di media sosial yang harus kita luruskan. Minimal jangan ikut-ikutan menyebarkan atau berkomentar negatif,” tegasnya.
Ia menilai, polarisasi dan irisan konflik di masyarakat saat ini banyak terbentuk di ruang digital, sehingga penyuluh agama harus menjadikan media sosial sebagai lahan dakwah, edukasi, sekaligus mitigasi konflik.
Lebih lanjut, H. Ahmad Faisol menekankan bahwa penyuluh harus mampu melakukan pendekatan yang relevan terhadap Generasi Z dan Alpha, dengan bahasa, media, dan pendekatan yang sesuai dengan dunia mereka.
“Bagaimana melakukan pendekatan dengan Gen Z dan Alpha agar dakwah kita diterima dan memberi solusi? Ini yang harus kita pikirkan bersama,” ujarnya.
Dalam arahannya, ia juga mendorong agar gerakan dakwah di media sosial kembali dimasifkan, seiring dengan tantangan zaman yang semakin kompleks. Penyuluh, kata dia, harus menjadi teladan, inovator, sekaligus problem solver di tengah masyarakat.
Tak hanya itu, Kakankemenag Lumajang juga menggarisbawahi pentingnya pendekatan dakwah yang holistik dan kontekstual, yakni mengaitkan ajaran agama dengan isu-isu aktual seperti lingkungan, ekonomi, kesehatan mental, dan persoalan sosial lainnya.
“Penyuluh agama harus mampu menghubungkan nilai-nilai agama dengan realitas kehidupan umat hari ini,” tandasnya.
Ia juga meminta para penyuluh untuk membangun jejaring dan kolaborasi lintas sektor, baik dengan pemerintah daerah, lembaga sosial, komunitas, maupun dunia pendidikan, guna memperkuat dampak program pembinaan umat.
Menutup arahannya, H. Ahmad Faisol mengajak seluruh penyuluh menjadikan hasil evaluasi tahun 2025 sebagai pijakan untuk melakukan penyegaran program di tahun 2026.
“Tahun 2026 harus lebih baik, lebih inovatif, dan saling menyempurnakan dengan berbagi program,” pungkasnya.

