Posted in: Berita

Storytelling hingga Kartu Tantangan: Cara Kreatif Penyuluh Agama KUA Lumajang Kuatkan Moderasi Beragama saat MATSAMA

Sulhii Online, Lumajang

Kegiatan Masa Ta’aruf Siswa Madrasah (MATSAMA) di MTs dan MA Putri Nurul Masyithoh Lumajang, Senin (14/7/2025), berlangsung semarak dan penuh antusias. Salah satu sesi yang menarik perhatian adalah materi Moderasi Beragama yang disampaikan dengan metode kreatif oleh Penyuluh Agama Islam KUA Lumajang, Sufyan Arif.

Tak seperti penyampaian materi konvensional, Sufyan memilih pendekatan interaktif yang menggabungkan storytelling, yel-yel, dan kartu tantangan. Hal ini ia lakukan karena berdasarkan pengalamannya, metode ceramah murni cenderung membuat peserta didik cepat bosan.

“Semalam saya sempat berpikir keras. Kalau hanya ceramah, biasanya anak-anak cepat kehilangan fokus. Akhirnya saya minta bantuan asisten pribadi saya, Mas Gepete, untuk memberi inspirasi,” tuturnya sambil tersenyum, menyebut nama panggilan untuk platform AI yang ia manfaatkan.

Hasilnya, lahirlah konsep materi yang ringan namun tetap menyentuh inti nilai-nilai moderasi beragama. Ia menyusun yel-yel kreatif bertema moderasi, toleransi, dan kerja sama. Setiap bait disertai gerakan, seperti tepuk tangan bersama teman, duduk berhadapan dan bertepuk dua tangan, hingga mengepalkan tangan ke atas sambil meneriakkan “Siap!”

Kehangatan forum makin terasa saat sesi storytelling dimulai. Dengan penuh penjiwaan, ia membacakan kisah tentang seorang siswi desa yang memiliki tekad tinggi untuk membahagiakan kedua orang tuanya. Namun bukan sekadar mendengarkan, para peserta juga harus mengikuti instruksi gerak saat kata-kata tertentu muncul.

“Saat mendengar kata “Madrasah”, mereka wajib mengangkat tangan ke atas, Saat mendengar “Indonesia”, mereka menyilangkan tangan ke dada kiri, Dan saat terdengar kata “Toleransi”, mereka menangkupkan kedua tangan ke dada,” ungkapnya.

Bagi peserta yang lalai mengikuti instruksi, harus maju dan mengambil kartu tantangan. Kartu ini berisi tugas-tugas edukatif seperti membacakan teks Pancasila, menyanyikan lagu Indonesia Raya, hingga mempraktikkan sikap sopan santun atau cara menghargai perbedaan.

“Awalnya saya belum tahu bagaimana teknik terbaik untuk menyampaikan materi ini. Tapi ternyata, inspirasi itu muncul justru ketika saya berada di forum bersama anak-anak. Dan Alhamdulillah, suasana menjadi sangat hidup,” ungkapnya.

Dengan metode yang menyenangkan dan partisipatif ini, peserta MATSAMA diajak memahami nilai-nilai moderasi beragama secara kontekstual dan aplikatif. Tidak hanya mendengar, tetapi merasakan dan mempraktikkannya.

“Saya belajar bahwa materi memang penting, tapi bagaimana kita menyampaikannya jauh lebih menentukan. Anak-anak itu sebenarnya semangat belajar, asal kita bisa menyentuh hati dan energi mereka,” pungkas Penyuluh Agama Islam KUA Lumajang itu.

Kegiatan ini membuktikan bahwa moderasi beragama dapat dikenalkan sejak dini dengan cara yang menyenangkan, relevan, dan menyentuh sisi kemanusiaan para pelajar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top