Dalam kehidupan seorang Muslim, khidmah atau pengabdian kepada Al-Qur’an dan guru memiliki nilai yang sangat luhur. Pengasuh Pondok Pesantren Bustanu Usyaqil Qur’an (BUQ) Betengan Demak Jawa Tengah KH. Muhammad Mahfudz menekankan pentingnya niat tulus dalam mengabdi kepada Al-Qur’an dan memenuhi panggilan guru, bukan karena formalitas, melainkan panggilan dari hati ke hati.
Pesan-pesan ini memberikan panduan bagaimana menjaga hubungan dengan Allah, guru, dan masyarakat melalui nilai-nilai Al-Qur’an. Beberapa poin yang bisa penulis fahami dan bisa ambil hikmah diantaranya adalah:
1. Khidmah kepada Guru, Panggilan Hati dengan Semangat Mencari Berkah Hidup
Kiai Muhammad mengajarkan bahwa memenuhi undangan guru bukanlah tentang wujud fisik undangan kertas, tetapi tentang panggilan hati untuk hadir dan hurmat haulnya.
Hal itu merupakan bentuk khidmah bagi seorang santri yang tidak lagi mukim di sebuah pesantren atau biasa disebut alumni. Berbeda dengan cara khidmah santri aktif yang kesehariannya biasa ia habiskan untuk ikut membantu dan melayani gurunya sepeti menjaga toko milik gurunya, mencuci, menyapu dan lain-lain.
“Masak diundang guru pakai kertas, ini undangan dari hati ke hati,” ungkap Kiai yang biasa panggil Kiai Muham ini saat memberikan tausiyah dalam pertemuan penutupan mudarosah alumni BUQ dalam rangka Haul pendiri pesantren K. R. Muhammad bin Kiai Mahfudz Termas, Ahad (17/11/2024).
Pengabdian ini terlihat dalam diri para alumni yang datang dari jauh dengan membawa anak-anak mereka, bahkan dalam keadaan hamil. Hal ini tentu suatu hal positif yaitu menunjukkan dan mengenalkan anak kepada lingkungan baik yang dengan hadir haul sejak dini, sebagaimana KH. Mahfudz Termas sendiri dulu dikenalkan ayahnya dengan dunia ilmu di Makkah, hingga Kiai Mahfudz saat besar kembali kesana dan mukim disana hingga wafat dan dimakamkan disana sebagai Ulama ternama dunia.
Ini sejalan dengan firman Allah:
وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ
“Ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku” (QS. Luqman: 15).
2. Kemuliaan Khidmah kepada Al-Qur’an
Kiai Muham menekankan, hidup seseorang akan menjadi lebih baik jika senantiasa menjaga Al-Qur’an. Kiai Muham pernah mendengar seorang alumni bercerita, dulu ia mendapat nasehat dari Al Maghfurlah Kiai Harir, ayah dari Kiai Muhammad Mahfudz. Kata Kiai Harir:
“Qur’anmu deresen rawaten, insya Allah uripmu bakal kepenak, yen ora (dideres) uripmu sengsoro.”
Kalau diterjemah ke bahasa Indonesia artinya adalah:
“Al Qur’an (yang kamu hafal) itu hendaknya kau jaga dan kau rawat, insyaallah hidupmu akan enak, jika tidak maka hidupmu sengsara.”
Aneh tapi nyata, Kiai Muham mendengar sendiri pengakuan seorang alumni saat dulu ia nyantri mendapat nasehat seperti ini, entah apa yang ia fikirkan si santri ini malah terdorong untuk membuktikan dawuh Kiai Harir ini dengan mencoba tidak menjaga hafalan Al Qur’an yang ia hafal.
Dan benar, setelah ia meninggalkan menjaga dan merawat hafalannya, kehidupannya mengalami banyak cobaan hidup yang sengsara, misalnya usaha yang gagal, banyak hutang, semakin terpuruk dan lain sebagainya.
Dan akhirnya ia menyadari bahwa dawuh gurunya tersebut benar-benar nyata, setelah ia mencoba kembali menjaga dan merawat Al Qur’an yang ia hafal, kehidupan yang sempat mengalami banyak guncangan, secara perlahan berangsur-angsur membaik dan ia kembali merasakan ketenangan dalam hidup.
“Seperti ini bukan ajang coba-coba, untung saja dirimu bisa kembali ke jalan yang benar,” gurau Kiai Muham usai menceritakan hal itu yang disambut gelak tawa para alumni.
Hal ini diperkuat dalam Al-Qur’an:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Kami pasti akan memberinya kehidupan yang baik” (QS. An-Nahl: 97).
Maka, termasuk diantara amal soleh tersebut adalah taat kepada guru, mentaati perintahnya, merawat hafalan Al Qur’an dengan selalu membacanya.
3. Meneladani Kesungguhan Para Sahabat dalam Khidmah kepada Al Qur’an
Para sahabat dan ulama terdahulu memberikan contoh bagaimana menjaga hafalan Al-Qur’an dengan istiqomah membacanya dengan kadar dan waktu tertentu sebagai momen untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Seperti yang dilakukan Sahabat Umar bi Khottab yang selalu istiqomah menjaga waktu untuk membaca Dzikir Al-Qur’annya secara disiplin, bahkan meskipun sedang ada tamu dirinya izin kepada tamunya hendak melakukan aktifitas membaca Al Qur’annya di waktu tersebut.
Berbeda lagi dengan apa yang dilakukan Sayyidah Aisyah setiap harinya mampu mengkhatamkan Al-Qur’an dalam satu dudukan. Ada yang seminggu sekali hatam seperti apa yang dijelaskan dalam banyak Hadits Nabi.
“Saya mengingatkan, orang yang punya hafalan Al Qur’an maka menjaganya seumur hidup, namun cara orang perorang berbeda cara menjanganya. Monggo jenengan kira-kira sendiri, mana yang cocok, untuk diluangkan waktu bagi Al Qur’an. Ada waktu kerja, waktu untuk keluarga, tapi jangan lupa meluangkan waktu untuk Al Qur’an,” tutut Kiai Muham
4. Pentingnya Mengikuti Nasihat Guru
Kiai Muham menegaskan bahwa keberkahan hidup datang dari mentaati dawuh guru. Beliau mengingatkan bahwa santri nakal, melanggar perintah gurunya dan berbuat yang tidak baik sama saja dzalim kepada dirinya sendiri dan dzalim kepada gurunya, karena secara otomatis masyarakat akan menilai siap gurunya dan belajar dimana.
“Seseorang yang melakukan dan mentaati dawuh guru, maka akan dibukakan pintu-pintu kebahagiaan,” tegas Kiai Muham.
5. Hayatan Thayyibah Bukan diukur dengan Materi
Setelah tadi disinggung mengenai hidup bahagia, Kiai Muham menegaskan bahwa kebahagiaan hidup bukan diukur dengan materi, tetapi melalui ketenangan batin dan keberkahan hidup yang disebut hayatan thayyibah. Beliau memberikan contoh seseorang yang hidupnya penuh kesulitan karena jauh dari Al-Qur’an, tetapi kembali baik setelah mengamalkan dan menjaga Al-Qur’an.
Khidmah kepada Al-Qur’an dan guru adalah kunci keberkahan hidup. Sebagai santri atau alumni, menjaga amanah guru dan meluangkan waktu untuk Al-Qur’an adalah bagian dari ibadah yang membawa manfaat dunia dan akhirat.
“Saya yakin, orang mulia sebab mulianya orang yang dikhidmai, seperti orang yang membaca Al Qur’an mendapat kemuliaan itu sebab mulianya Al Qur’an, khidmah kepada guru juga begitu,” terang Kiai Muham.
Semoga kita termasuk hamba yang istiqamah dalam khidmah, sebagaimana firman Allah:
وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ ۗ
“Apa saja kebaikan yang kamu kerjakan untuk dirimu, pasti kamu akan mendapat balasannya di sisi Allah” (QS. Al-Baqarah: 110). Wallahu A’lam.

