Sidoarjo, Sulhii Online
Kunjungan pertama Menteri Agama Republik Indonesia Prof. DR. Nasaruddin Umar, MA ke Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Jawa Timur membawa kesan mendalam dengan penjelasan sejarah dan nasihat yang sarat akan ilmu, Kamis (14/11/2024).
Prof. DR. Nasaruddin mengatakan, Jawa Timur dianggap sebagai kantor wilayah paling senior dalam sejarah Kementerian Agama di Indonesia. Keberadaan Kementerian Agama tidak terlepas dari sejarah besar ketika Piagam Jakarta diperdebatkan dan akhirnya disempurnakan menjadi Pancasila.
“Hadirnya Kemenag secara historis prosesnya lebih banyak dari Jatim, ketika Piagam Jakarta digugat oleh sekelompok kecil warga bangsa dari Indonesia timur, keberatan dengan istilah yang dimunculkan, yaitu ketuhanan dengan menjalankan Syariat Islam bagi pemeluknya, lalu dirumuskan Pancasila dengan silah pertamanya Ketuhanan Yang Maha Esa,” jelas tokoh yang juga menjadi Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta tersebut.
Hal itu menurut Prof. Nasaruddin merupakan rahmat harus disyukuri, karena seandainya hal itu dipertahankan dan tidak direvisi dengan Pancasila silah pertama, akan terjadi konflik antar sesama umat beragama bahkan antar Umat Islam itu sendiri.
“Sehingga muncul perdebatan nantinya, Islam yang mana? NU Aswaja, Muhammadiyah, Syiah, apakah toriqoh fikih atau apa? Tapi dengan silah Ketuhanan Yang Maha Esa bisa menafikan perpecahan tersebut,” jelasnya.
Dirinya menuturkan, dalam sejarah semuanya pasti tahu, yang mengilhami para kiai yang ada di Jatim pada waktu itu untuk menerima silah pertama Pancasila adalah KH Hasyim Asy’ari sebagai orang pertama yang menerima silah tersebut.
“Komando Allahu Akbarnya Bung Tomo juga memberikan energi psikologis lahirnya Kemenag, dan pada akhirnya jalan tengah untuk mewadahi umat Islam sebagai mayoritas mutlak di Indonesia ini untuk tidak menjadi negara Islam atau negara yang memberikan kekhususan kepada Umat Islam adalah Pancasila itu sendiri,” tegasnya.
Sehingga, ungkapnya, Pancasila ini benar-benar memberikan rahmat bagi keutuhan Bangsa Indonesia. Sebagai perbandingan seperti negara Malaysia, dengan penduduk mencapai 40 juta jiwa dengan umat islamnya sejumlah 60 persen, tapi disana menjadikan Islam itu sebagai agama official dan agama lainnya ikut dibawah official Islam.
“Kita disini tidak ada negara official apalagi bukan negara islam, tapi negara Pancasila. Nah maka itu rahmat yang paling indah adalah Pancasila itu sendiri. Maka kehadiran Kemenag bukan kementerian biasa, seperti kementerian tekhnis yang lain, Kemenag itu buah dari pada sebuah perjumpaan dari berbagai macam muara,” lanjutnya.
Dengan begitu akhirnya Kementerian Agama menjadi lembaga peleburan lembaga untuk menegakkan arus suasana emosi keagamaan, karena itu mari kita pertahankan eksistensi keberadaan Kemenag. Kementerian yang lain boleh bubar, tapi Kemenag tidak boleh bubar karena ini adalah persepakatan nasional sebagai jembatan penyebrangan yang mewadahi Piagam Jakarta dengan Pancasila,” ucap Prof. Nasaruddin mantap.
Maka, lanjutnya, tantangan kedepan adalah mempertahankan Kemenag ini caranya tentu di mulai dari aparat Kemenag itu sendiri. Dirinya mengibaratkan Kemenag sebagai sapu untuk membersihkan kotoran kotoran kalbu umat bangsa Indonesia, tapi jika sapunya sendiri kotor bagaimana bisa menyapu dan membersihkan target itu.
“Nah, perlu kita intropeksi menepinya atau memarsilnya sejumlah bagian Kemenag ke tempat lain itu juga koreksi buat kita semua sebagai aparat Kementerian Agama,” pungkasnya.

