Posted in: Berita

Ketua PD IPARI Lumajang Prihatin Kasus Dugaan Bullying, Ajak Penyuluh Agama Perkuat Pencegahan di Lingkungan Pendidikan

Lumajang – Dugaan kasus perundungan (bullying) yang menyebabkan meninggalnya seorang pelajar di Kecamatan Kedungjajang menjadi perhatian serius berbagai pihak, termasuk Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kabupaten Lumajang. Peristiwa tersebut dinilai sebagai alarm bagi semua elemen masyarakat untuk semakin memperkuat pendidikan karakter, nilai-nilai kemanusiaan, dan kepedulian terhadap sesama.

Ketua Pengurus Daerah (PD) IPARI Kabupaten Lumajang, SUKAN, S.H., M.Pd., menyampaikan rasa duka cita dan keprihatinan yang mendalam atas musibah tersebut. Menurutnya, tidak ada satu pun anak yang layak kehilangan masa depan akibat tindakan perundungan. Ia menegaskan bahwa bullying bukan lagi persoalan kenakalan biasa, melainkan masalah sosial yang dapat berdampak serius terhadap kesehatan mental, masa depan, bahkan keselamatan jiwa seseorang.

“Kami keluarga besar IPARI Kabupaten Lumajang turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya salah satu pelajar yang diduga menjadi korban perundungan. Semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta ketabahan,” ujar Sukan saat dihubungi redaksi sulhii.com, Kamis (02/07/2026).

Lebih lanjut, Sukan menegaskan bahwa penyelesaian persoalan bullying tidak cukup hanya melalui pendekatan hukum setelah kejadian terjadi. Yang jauh lebih penting adalah membangun sistem pencegahan yang melibatkan seluruh unsur masyarakat, mulai dari keluarga, sekolah, pemerintah, aparat penegak hukum, hingga tokoh agama.

Menurutnya, Penyuluh Agama memiliki posisi strategis dalam membangun karakter generasi muda melalui pendekatan keagamaan yang menanamkan nilai kasih sayang, empati, penghormatan terhadap martabat manusia, serta penyelesaian konflik tanpa kekerasan.

“Penyuluh Agama tidak boleh hanya hadir ketika musibah telah terjadi. Kita harus berada di garda terdepan dalam upaya pencegahan. Melalui penyuluhan di sekolah, madrasah, majelis taklim, dan komunitas masyarakat, kita harus terus menanamkan nilai akhlak mulia, menghargai sesama, mengendalikan emosi, serta membangun budaya saling peduli. Inilah bagian dari dakwah yang membumi dan menyentuh persoalan nyata masyarakat,” tegasnya.

Sebagai organisasi profesi yang menaungi penyuluh agama lintas agama, IPARI Kabupaten Lumajang berkomitmen untuk terus mendorong penguatan program edukasi pencegahan bullying melalui kolaborasi dengan Kementerian Agama, Dinas Pendidikan, sekolah, kepolisian, serta berbagai lembaga terkait. Program tersebut akan dikembangkan melalui penyuluhan keagamaan, pendidikan karakter, literasi digital, penguatan ketahanan keluarga, hingga kampanye anti-perundungan di lingkungan pendidikan.

Sukan menambahkan bahwa penyuluh agama memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan agama sebagai solusi atas berbagai persoalan sosial yang berkembang di tengah masyarakat. Menurutnya, dakwah tidak boleh berhenti pada penyampaian materi keagamaan, tetapi juga harus mampu menjawab tantangan zaman, termasuk meningkatnya kasus kekerasan dan perundungan di kalangan pelajar.

“Bullying adalah musuh bersama. Karena itu, pencegahannya harus menjadi gerakan bersama. Ketika keluarga menguatkan pendidikan karakter, sekolah menciptakan lingkungan yang aman, tokoh agama menanamkan nilai kasih sayang, dan pemerintah menghadirkan kebijakan yang berpihak pada perlindungan anak, maka kita sedang membangun generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak dan berperikemanusiaan,” pungkasnya.

Melalui momentum ini, PD IPARI Kabupaten Lumajang mengajak seluruh penyuluh agama untuk semakin aktif mengambil peran dalam membangun budaya anti-bullying di tengah masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top