Posted in: Artikel

Menyambung Silaturahmi, Merawat Jalan Menuju Rahmat Allah

Islam menempatkan silaturahmi sebagai salah satu amal yang memiliki kedudukan sangat agung. Tidak hanya dianjurkan, bahkan memutus tali kekerabatan termasuk perbuatan yang mendapat ancaman keras dari Allah SWT.

Dalam kajian Kitab Naso’ihul ‘Ibad, KH Solahuddin Munsif menjelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat mengenai makna “sanak” atau kerabat yang wajib dijaga hubungan baiknya. Pendapat pertama membatasi pada kerabat yang memiliki hubungan mahram. Sementara pendapat kedua memaknainya lebih luas, yakni seluruh keluarga dan kerabat, baik yang dekat maupun yang jauh.

Karena itu, para ulama menganjurkan agar seseorang mengetahui silsilah keluarganya sehingga hubungan kekerabatan tidak terputus. Menyambung silaturahmi pun tidak harus selalu dengan berkunjung. Mengirim salam, menanyakan kabar, memberikan hadiah, atau sekadar mengirim pesan yang baik sudah menjadi bagian dari menjaga ikatan persaudaraan.

Banyak hadis Nabi SAW menerangkan keutamaan silaturahmi. Keutamaannya tidak hanya dirasakan di akhirat, tetapi juga dalam kehidupan dunia. Sebaliknya, memutus hubungan keluarga menjadi sebab hilangnya keberkahan dan datangnya ancaman di akhirat.

Allah SWT memuji ulul albab, yaitu hamba-hamba yang memiliki akal dan hati yang jernih. Di antara ciri mereka adalah menjaga silaturahmi, memiliki rasa takut kepada Allah, serta takut menghadapi hisab yang buruk pada Hari Kiamat.

Birrul Walidain: Silaturahmi yang Paling Utama

Di antara seluruh kerabat, kedua orang tua memiliki hak yang paling besar. Para ulama terdahulu senantiasa mengutamakan ridha ibu sebelum melangkah melakukan urusan penting.

Rasulullah SAW bersabda:

أَنْتَ وَمَالُكَ لِأَبِيكَ

“Engkau dan hartamu adalah milik ayahmu.”

Dari hadis ini, KH Solahuddin mengingatkan agar seorang anak memiliki kepekaan terhadap kebutuhan orang tuanya. Jangan sampai orang tua harus mengeluh tidak memiliki sesuatu, sementara anak sebenarnya mampu membantu. Sebelum diminta, hendaknya seorang anak telah lebih dahulu memperhatikan kebutuhan ayah dan ibunya.

Beliau juga mengingatkan agar jangan sampai kecintaan kepada pasangan membuat seseorang lalai terhadap bakti kepada ibunya. Selama kedua orang tua masih hidup, kesempatan berbakti jangan pernah disia-siakan.

Takut kepada Allah dan Rajin Bermuhasabah

Ciri orang beriman adalah memiliki rasa takut kepada Allah di mana pun berada. Jangan pernah menganggap remeh dosa, sekecil apa pun. Ketika tergelincir dalam kesalahan, segeralah bertaubat tanpa menunda.

Orang-orang saleh selalu mengakhiri harinya dengan muhasabah. Bila hari itu dipenuhi amal baik, mereka bersyukur. Namun bila lebih banyak kekhilafan, mereka segera memohon ampun kepada Allah.

Padahal Rasulullah SAW yang telah dijamin kemaksumannya masih beristighfar setiap hari hingga 70 kali, bahkan dalam riwayat lain disebutkan 100 kali.

Demikian pula Imam Abu Hanifah rahimahullah. Setiap malam beliau menangis karena begitu besar rasa takutnya kepada Allah SWT.

Beratnya Ancaman Memutus Silaturahmi

Orang yang memutus hubungan kekerabatan diancam dengan laknat Allah dan siksa neraka. Laknat berarti dijauhkan dari rahmat Allah, dan setiap dosa yang disertai ancaman laknat menunjukkan bahwa dosa tersebut termasuk dosa besar.

Namun seorang muslim juga tidak boleh mudah melaknat orang lain.

Justru ketika ada keluarga yang menyakiti kita, di situlah kesempatan untuk membuktikan hakikat silaturahmi. Menyambung hubungan bukan kepada mereka yang selalu baik kepada kita, tetapi juga kepada mereka yang pernah melukai hati kita.

Teladan Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki

KH Solahuddin kemudian mengisahkan sebuah keteladanan yang sangat menyentuh.

Suatu ketika ada seseorang yang menulis berbagai tuduhan dan celaan kepada Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki hingga tersebar melalui sebuah majalah di berbagai penjuru Arab Saudi. Bahkan ada ulama yang menyarankan agar tuduhan tersebut dibalas dengan tulisan yang serupa.

Namun beliau memilih diam.

Beberapa waktu kemudian, Sayyid Muhammad justru mengajak seorang santrinya mengunjungi rumah orang yang telah menjelek-jelekkan dirinya. Mereka berbincang dengan hangat sebagaimana tamu biasa.

Saat hendak berpamitan, beliau menitipkan sebuah amplop berisi uang dalam jumlah yang besar melalui santrinya untuk diberikan kepada tuan rumah.

Barulah setelah mengetahui bahwa tamu yang datang dan memberinya hadiah itu adalah orang yang selama ini ia fitnah, orang tersebut menangis tersedu-sedu. Ia menyesali perbuatannya, meminta maaf, dan bertaubat kepada Allah.

Para wali Allah tidak sibuk membalas keburukan dengan keburukan. Mereka lebih memilih memaafkan, bahkan sebelum diminta maaf. Mereka yakin bahwa semua terjadi atas takdir Allah, dan mereka berharap ampunan Allah dengan terlebih dahulu memaafkan kesalahan sesama.

Sebagaimana kaidah yang masyhur:

الجزاء من جنس الأعمال

“Balasan itu sejenis dengan amal perbuatannya.”

Barang siapa memaafkan manusia, maka ia berharap Allah akan memaafkan dirinya.

Penutup

Di akhir pengajian, KH Solahuddin Munsif berpesan agar kita berhati-hati dalam memilih pergaulan. Jangan menjadikan orang yang gemar memutus tali silaturahmi sebagai teman dekat, karena kebiasaan buruk dapat menular. Bahkan sebagian ulama menyebutkan bahwa memutus silaturahmi dapat menjadi sebab tertolaknya doa.

Selagi masih diberi kesempatan, mari kita sambung kembali hubungan yang renggang, meminta maaf, memaafkan, memperhatikan orang tua, serta menjaga hubungan baik dengan seluruh keluarga.

Sebab, boleh jadi jalan paling dekat menuju rahmat Allah bukanlah amal yang besar, melainkan hati yang lembut, tangan yang selalu menyambung silaturahmi, dan jiwa yang mudah memaafkan.

Catatan Ngaji Kitab Naso’ihul ‘Ibad

Yang dibacakan oleh: KH Solahuddin Munsif

Ahad, 5 Juli 2026 | Masjid Sabilul Muttaqin, Jatigono, Kunir, Lumajang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top